Menu

Mode Gelap
Exclusive dari Qatar: Jelang Kroasia vs Maroko, Vatreni Tetap Anggap Serius Laga Perebutan Juara Ketiga Piala Dunia 2022 : Media Baca Bola Resmi! Joni Supriyanto Terpilih sebagai Ketua Umum PB Perbakin Periode 2022-2026 : Media Baca Sports BEI Catat 1 Obligasi dan 1 Saham dalam Sepekan : Media Baca Economy Soal Kembali Bela Prancis di Final Piala Dunia 2022, Karim Benzema Beri Respons Jelas : Media Baca Bola Prediksi Update Ranking BWF Desember 2022: Fajar Alfian Rian Ardianto Naik ke Urutan Kedua : Media Baca Sports

Keuangan · 21 Des 2022 11:16 WIB ·

Harga Beras Indonesia Disebut Paling Mahal, Ini Kata Mentan SYL : Media Baca Economy


 Harga Beras Indonesia Disebut Paling Mahal, Ini Kata Mentan SYL : Media Baca Economy Perbesar

Jakarta – Bank Dunia mengumumkan Harga beras Indonesia termahal di ASEAN dalam 10 tahun terakhir, yang dibantah Menteri Pertanian Siahrul Yasin Limpo.

Menurutnya, hingga saat ini harga beras di Indonesia tidak pernah melebihi harga pembelian pemerintah (HPP).

“Kami adalah yang terendah kedua di Asia. Jadi detailnya bisa diperbaiki oleh mereka (Bank Dunia). Informasi apa yang mereka gunakan? Selama perubahan seperti itu, kami bertani, tentu saja, harga juga mengalami guncangan seperti itu. Namun secara umum masih belum lebih tinggi dari HPP yang kami siapkan.

Namun, Mentan tak memungkiri bahwa laporan Bank Dunia itu salah. Ketika Bank Dunia mengambil berbagai data terkait harga beras, ditanyakan database apa yang digunakan Bank Dunia untuk mempublikasikan hasil laporan tersebut.

“Prosesnya kapan? Jika waktu saat ini adalah November, maka Desember adalah waktu yang ditentukan untuk kita. Kami masih bercocok tanam. Menanam 10 juta hektar itu tidak mudah, jadi kalau mau beras maka harganya naik, kalau mau beli beras yang pas itu Maret-April-Juli-Agustus. Ini harga yang sangat (bagus) karena kita sedang berada di puncak panen,” tambah Mentan.

Sementara itu, Dewan Direksi Institut Agroekologi Indonesia (INAgri) menyatakan bahwa tingginya harga beras di Laut Asia Indonesia mungkin saja benar adanya. Namun di kawasan Asia, harga beras di Jepang dilaporkan masih tinggi di kisaran Rp 30.000 per kilogram.

Baca juga: Children’s Life Adventure Park menawarkan kesenangan tanpa batas, literasi digital, dan pendidikan

Ia menjelaskan, ada beberapa alasan mengapa harga beras di Indonesia dinilai paling tinggi dalam GAP, terutama rantai produksi beras yang panjang dan tidak efisien.

“Ini berbeda dengan yang saya lihat di Taiwan. Petani lokal membudidayakan dan kemudian menyewa (dari metode) Alcintan atau milik mereka sendiri. Saat mereka mengumpulkan gabah, mereka mengemasnya, membawanya ke penggilingan padi, dan kemudian membelinya. menggunakan pengering. Jadi tidak ada pengambil, perekrut, perantara. Tidak ada,” kata Achamad kepada “Voice of America”.

Menurut dia, pasokan jangka panjang yang tidak efisien ini disebabkan pola petani yang bersifat kekeluargaan dan bukan industri yang menurutnya bersifat jangka panjang. Oleh karena itu, untuk mencapai pasokan yang lebih efisien, pemerintah akan membuat Harga Pembelian Pemerintah (GPP) yang diatur melalui Undang-Undang Bidang Usaha (Permendag).

Untuk mencegahnya, pemerintah melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) membantu petani agar tidak tertangkap oleh tengkulak. Namun, kata dia, petani akan terhambat mendapatkan KUR karena tidak memiliki asuransi.

Sumber artikel

Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Admin

Baca Lainnya

Deretan BLT dan Bansos yang Cair di Tahun Baru 2023 : Media Baca Economy

2 Januari 2023 - 09:12 WIB

Ucapkan Tahun Baru 2023, Susi Pudjiastuti: Semoga Semuanya Lebih Baik : Media Baca Economy

1 Januari 2023 - 19:10 WIB

Sri Mulyani Rayakan Tahun Baru 2023 di Atas Roof Top Bintaro : Media Baca Economy

1 Januari 2023 - 17:00 WIB

1,1 Juta Penumpang Naik Kapal Selama Libur Nataru, Naik 71,2% : Media Baca Economy

1 Januari 2023 - 14:55 WIB

Tenang! Tak Ada Kenaikan Tarif Listrik Januari-Maret 2023 : Media Baca Economy

1 Januari 2023 - 11:40 WIB

Sri Mulyani Masih Bereskan Pekerjaan Sebelum 2022 Berakhir : Media Baca Economy

31 Desember 2022 - 21:44 WIB

Trending di Keuangan